"Tanpa cahaya, malam hanyalah sisi bumi yang gelap gulita. Dan meski terang itu indah, sepertinya kita tak pantas untuk melupakan apa itu gelap". -Sang Koki Listrik
Pages
▼
Pages
▼
Tuesday, July 31, 2012
Damai BersamaMu
“..Jangan biarkan damai ini pergi, jangan biarkan semuanya berlalu. Hanya padaMu Tuhan tempatku berteduh dari semua kepalsuan dunia..” GIGI-Damai BersamaMu
Monday, July 30, 2012
PUISI: Cerita Hujan #1
Kita tiba di ujung Juli
Ketika puluhan hari terpanggang terik mentari
Malam ini jutaan anak hujan menari-nari
Membasahi bumi
Bertumpah ria dari atas awan
Sesekali deras namun sesekali juga sayup basah terdengar
Rinai hujanmu masih seperti dulu
Tercium khas di hidungku
Langkah-langkahmu membunuh
Kesepian diri yang terlalu lama menunggu
Nafasmu segarkan nurani yang mengering
Hujan, peluklah aku dalam tarian indahmu
Bawalah aku bersama gemuruhmu
Aku ingin kau tahu, semua orang sedang merindukanmu
Ketika puluhan hari terpanggang terik mentari
Malam ini jutaan anak hujan menari-nari
Membasahi bumi
Bertumpah ria dari atas awan
Sesekali deras namun sesekali juga sayup basah terdengar
Rinai hujanmu masih seperti dulu
Tercium khas di hidungku
Langkah-langkahmu membunuh
Kesepian diri yang terlalu lama menunggu
Nafasmu segarkan nurani yang mengering
Hujan, peluklah aku dalam tarian indahmu
Bawalah aku bersama gemuruhmu
Aku ingin kau tahu, semua orang sedang merindukanmu
Sunday, July 29, 2012
PUISI: Gelap
Sebagaimana malam diciptakan
Begitu pula langit biru disembunyikan
Juntaian bintang-bintang menjadi saksi bisu
Tentang harapan yang meradang
Kisah cinta yang hilang
Usah kau ceritakan pada mentari
Betapa gelapnya malam
Sudut kanan-kiri yang kelam
Terkurung dalam temaram kekecewaan
Kenapa pula mentari begitu cepat meninggalkan?
Bila senja masih setia pada awan
Dan kenapa pula senja harus kehilangan merahnya?
Bila jejak-jejak warna masih tertinggal
Disini, disudut ruang
Mata menatap seputaran
Gelap dan pengap
Begitu pula langit biru disembunyikan
Juntaian bintang-bintang menjadi saksi bisu
Tentang harapan yang meradang
Kisah cinta yang hilang
Usah kau ceritakan pada mentari
Betapa gelapnya malam
Sudut kanan-kiri yang kelam
Terkurung dalam temaram kekecewaan
Kenapa pula mentari begitu cepat meninggalkan?
Bila senja masih setia pada awan
Dan kenapa pula senja harus kehilangan merahnya?
Bila jejak-jejak warna masih tertinggal
Disini, disudut ruang
Mata menatap seputaran
Gelap dan pengap
PUISI: Pagi
Mentari di ufuk timur
Merangkak pelan
Semalam bintang menyebar
Namun masih ada satu bintang yang menarik perhatianku
Setidaknya aku tak lelah untuk menatapnya
Malam, ini yang dinamakan kehangatan
Kala sinar meresap-resap dalam pelukan
Sebagaimana hari yang diinginkan
Bila bangun bermalas-malasan
Maka malas pula dunia
Bila keceriaan yang keluar
Maka warna jingga akan tetap mekar
Lelehnya embun adalah
Memuainya semua tidur kehidupan
Dan untuk itulah ia diciptakan
Thursday, July 26, 2012
Selamat Melangkah!
“Manusia hanya berencana, Tuhanlah yang menentukan”. Kalimat ini berputar-putar di
otakku hari ini. Entah kenapa, lantas aku teringat dengan banyak
rencana-rencana yang pernah kutanamkan dulu. Memang benar adanya manusia hanya
bisa berencana, selebihnya Tuhan yang menentukan.
Dari sekian banyak rencana, ada yang tercapai ada pula yang
tidak. Menurutku, “tercapai atau tidaknya sebuah rencana bukan hanya karena campur
tangan Tuhan yang tak berkehendak namun sejauh mana usaha yang kita buat untuk
mewujudkannya..”
Bila suatu rencana tak tercapai padahal kita sudah usaha
mati-matian untuk mendapatkannya, ya barangkali Tuhan sudah punya rencana yang
lebih baik untuk kita. Namun, lain halnya jika kita hanya berencana tanpa
adanya usaha untuk mewujudkannya. Nonsense!
Namun, sekali lagi. Kita memang tak bisa memprediksi apa
yang terjadi di depan, berencana tidak ada salahnya.
Kau tahu, terkadang yang kita butuhkan adalah memulai belajar
sendiri, belajar mandiri, tak bergantung dengan orang lain, bersikap tegas pada
diri dan berani memilih. Jangan terlalu lemah dan mudah menyerah. Harus mulai
bisa menggunakan apa yang kita miliki saat ini. Lenyapkan semua kata “ah, nanti
saja..” , “seandainya..”, “kalau saja..”aku akan..” dan sebagainya sebagai
bentuk pembelaan diri. Berhentilah mengasihi diri sendiri. Terlalu larut dalam
garis nyaman.
“Kenapa masih harus duduk, diam sambil meratapi nasib jika
kehidupan diluar sana menjanjikan suatu kebaikan yang lebih?”
Kita semua tahu bahwa masa lalu itu pahit, ya
sepahit-pahitnya. Tapi akan lebih pahit kalau kita memilih untuk diam saja hari
ini. Aku percaya setiap kita bisa menjadi lebih baik dari sekarang.
Ketahuilah bahwa sebuah perjalanan itu memanglah sulit,
namun suatu saat nanti kau akan tersenyum bangga saat bisa melewati masa sulit
itu dan bertahan.
Jangan takut mencoba, jangan takut gagal. Jangan lagi
dibayangi masa lalu yang membuatmu merasa tak berharga, merasa diri makhluk
paling malang sedunia. Hidup adalah perjuangan, hidup itu tentang bagaimana
cara kita bertahan dan menikmatinya. Dan kamu lebih berharga dari yang kamu
pikirkan.
Selamat melangkah!
Sunday, July 22, 2012
“Bismillah, kupinang kau dengan box lengkap dengan bracketnya”.
Ramadhan telah tiba, hari ini adalah hari kedua bulan
ramadhan. Gak terasa ya, akhirnya saya ketemu lagi denganmu, Alhamdulillah. :) .
Jauh sudah berbeda tak seperti saat sekolah dulu, dimana kebersamaan keluarga
tercurah di meja makan, sahur bersama, mempersiapkan makanan buka. Semuanya terasa indah. Memang, aku mungkin
tak bisa setiap harinya bersama keluarga, namun bila saat libur shift tiba aku
segera kembali ke rumah.
Ini adalah tahun kedua saya melaksanakan puasa di tempat
kerja, aah rasa-rasanya tak ada yang berubah dengan suasana. Misalkan shift
sore: pulang jam 1 dini hari, lantas mandi, buat coklat panas, sholat tahajud. Eh
tak lama, sudah sahur. Sehabis sahur, sholat shubuh bareng di mushola asrama. Kalo
lagi ketemu shift malem: gak ada yang berbeda juga cuma sahurnya agak sedikit
awal, jam 3 dini hari. Mengingat staf yang akan sahur cukup banyak, jadi makan
sahurnya gantian. Nah, shift pagi yang mungkin agak sedikit menguras energi,
namun lelaki tak mengenal, cukup nikmati, sebentar lagi juga waktu buka tiba.
Baiklah, pembahasan puasanya segini dulu. Saya ucapkan yang
sebesar-besarnya “Selamat berpuasa, semoga puasa ramadhan tahun ini berkah.
Aamiin.”
Sebetulnya kali ini saya ingin membahas tentang “pacar” saya
lho. “Hah? Puasa gini masih saja sebut-sebut pacar, bukannya perbanyak ibadah
malah pacaran?” :D
Tak peduli ramadhan atau tidak, saya selalu bersama pacar
saya saat bergerak ke suatu tempat, entah Palembang, Prabumulih, Muara Enim
atau pulang ke rumah.
Jadi, kebersamaan kami bulan ini sudah memasuki bulan ke-13.
Pacar saya tambah seksi saja, :D masih ingat artikel saya yang lalu? http://aguskudo.blogspot.com/2012/07/bracketnya-udah-tinggal-cari-boxnya.html
Dengan berkah Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya dengan mengucap
Bismillah si pacar kupinang dengan sebuah box lengkap dengan bracket ditambah
dengan handguard. Dengan pinangan ini saya mematahkan pendapat orang-orang yang
katanya “si BYSON tak layak bila dipasang box”. Lihatlah si pacar, sudah
pakai box dan hasilnya aman-aman saja, apanya yang tak layak!?
Saya tak main-main beliin aksesoris tambahan buat si pacar,
sebuah box Shad SH45 terpasang anggun sudah di punggung pacar. Dengan volume 45
liter, box ini bisa muat 2 helm half face sekaligus atau 1 buah helm fullface. Sayangnya
pada box Shad SH45 ini tidak dilengkapi dengan STOPLIGHT, tapi tak apa-apa lain
kali box si-pacar saya modif lagi buat nambah lampu belakang. Terakhir, Handguard
yang terbuat plat besi juga siap melindungi tangan selama perjalanan.
Kian hari saya kian cinta dengan si pacar. Berat badan si
pacar naik 3 kg setelah bracket, box dan handguard dipasang.
Mau opor ayam, sate, rendang, buah-buahan, jas hujan,
perlengkapan turing semua bisa ditampung dalam box :D saya sudah tak takut lagi punya
barang bawaan banyak, dengan box semua teratasi :)
Tuesday, July 17, 2012
Kucing Penjaga Asrama [Photo]
Sore tadi saya muter-muter di asrama bawa kamera sekedar
cari ide buat jepret-jepret ria sebelum makan malam. Lantas pas lewat tangga
asrama, eh ada kucing. Nah, karena kucing asrama ini narsis banget. Jadilah saya
beranikan diri untuk menjeprat-jepret dirinya :D
Hasilnya? Not bad. Lumayan buat nambahin koleksi photo saya.
Saya tak tahu kucing ini milik siapa, namun dengan setiap orang yang
mendekatinya kucing ini tak malu, lain dengan kucing lain yang akan berlari
jika didekati oleh orang tak dikenal.
Tadi sore saya puas ajak main-main dia, sekedar ambil rumput
yang panjang, kucing itu pun mengejar-ngejar seolah berburu. Aksinya pun
memukau perhatian saya.
Sekedar berbagi photo tak apalah. Enjoy! ;)
Saturday, July 14, 2012
Bracketnya udah, tinggal cari boxnya.
Setelah 30 hari mondar-mandir telpon sana-sini, akhirnya bracket pesanan buat si-pacar datang juga. Sebuah bracket slide merk KUCAY asli Made In Indonesia ini saya pesan langsung dari kota Lampung.
Ceritanya begini, saya survey kesana-kesini, googling, tanya temen sesama anggota BYONIC tentang bracket yang bagus dan cocok dengan si-pacar. Didapatlah rekomendasi bracketnya.
Awalnya sih temen-temen rekomendasi-in bracket yang fix (tanpa geser) katanya biar lebih kuat, tapi kekurangannya kalo lagi bawa motor sendirian maka bagian belakang terlalu terbebani, alhasil keseimbangan saat berkendara berkurang.
Lalu, ada juga temen yang rekomendasi-in untuk pake bracket slide (bisa geser), keuntungannya bracket slide bisa diatur, kalo lagi boncengan bracket bisa digeser belakang biar tempat duduknya muat sementara kalo lagi sendirian bracketnya bisa dimajuin ke depan sehingga keseimbangan saat berkendara bisa terjaga dengan baik.
Ditinjau dari segi desain, bracket KUCAY home made ini lumayan kuat, dilihat dari bekas las dan rangkanya. Untuk pemasangannya juga cukup mudah. Saya malah pasang sendiri di rumah.
Nih, saya kasih foto penampakan si-pacar saat dipasangin bracket slide. =)
1. Bracket kucay slide (baru buka bungkus nih!)
Nah, kalo bracketnya udah, tinggal cari boxnya. Duh, saya harus bolak-balik lagi nih ke kota bari buat cari boxt si-pacar. Tapi tak apalah, sekedar bolak-balik dari kota nanas ke kota bari tak masalah. Jika kau peduli maka perjuangankanlah. ;)
Ceritanya begini, saya survey kesana-kesini, googling, tanya temen sesama anggota BYONIC tentang bracket yang bagus dan cocok dengan si-pacar. Didapatlah rekomendasi bracketnya.
Awalnya sih temen-temen rekomendasi-in bracket yang fix (tanpa geser) katanya biar lebih kuat, tapi kekurangannya kalo lagi bawa motor sendirian maka bagian belakang terlalu terbebani, alhasil keseimbangan saat berkendara berkurang.
Lalu, ada juga temen yang rekomendasi-in untuk pake bracket slide (bisa geser), keuntungannya bracket slide bisa diatur, kalo lagi boncengan bracket bisa digeser belakang biar tempat duduknya muat sementara kalo lagi sendirian bracketnya bisa dimajuin ke depan sehingga keseimbangan saat berkendara bisa terjaga dengan baik.
Ditinjau dari segi desain, bracket KUCAY home made ini lumayan kuat, dilihat dari bekas las dan rangkanya. Untuk pemasangannya juga cukup mudah. Saya malah pasang sendiri di rumah.
Nih, saya kasih foto penampakan si-pacar saat dipasangin bracket slide. =)
1. Bracket kucay slide (baru buka bungkus nih!)
2. Penampakan samping sebelum dipasang Bracket
3. Kanan-kiri cover yang udah dilepas
4. Penampakan si-pacar saat bugil =D
Nah, kalo bracketnya udah, tinggal cari boxnya. Duh, saya harus bolak-balik lagi nih ke kota bari buat cari boxt si-pacar. Tapi tak apalah, sekedar bolak-balik dari kota nanas ke kota bari tak masalah. Jika kau peduli maka perjuangankanlah. ;)
Monday, July 9, 2012
Call Me “OM”
Kami adalah keluarga terbesar. Tak terbilang sudah berapa
banyak anggota keluarga yang tersebar, ada yang di Sumatera Selatan, Jakarta, Bandung,
Jepang bahkan Amerika. Waktu masih kecil
saya sempat bingung saat bertemu dengan anggota keluarga lain apalagi saat itu
mereka memanggil saya dengan sebutan “Om” bahkan “Kakek kecil” katanya. Oh tidak,
saya benar-benar tak mengerti.
Hingga kini saat beranjak dewasa, perjalanan bertemu dengan anggota
keluarga banyak kutemui. Barulah kusadari bahwa mereka adalah keponakan yang
lucu. Dikarenakan Ayah saya adalah bungsu dari beberapa saudara maka dari itu
anggota keluarga lain memanggil saya dengan sebutan “Om kecil” atau “Kakek
kecil”. 8)
Beberapa bulan lalu saya agak terkejut dengan berita yang
menyatakan bahwa salah satu anggota keluarga kami akan melangsungkan acara
pernikahan. Aku tercengang. Wah, keponakan saya akan segera menikah? Lantas kalo
keponakan saya mempunyai anak dia akan memanggil saya apa? “Kakek kecil” lagi? :D
sebenarnya agak sedikit geli mendengarnya, namun itulah yang disebut dengan “Silsilah
Keluarga”. :)
Sekarang umur saya sudah beranjak dewasa, setidaknya jika
keponakan-keponakan lain memanggilku dengan sebutan “Om”, saya tidak merasa canggung
lagi. Memang, mempunyai banyak keponakan selalu menyenangkan, kita bisa bermain
layaknya anak kecil, hmm seperti mengulang waktu saat saya masih kecil. Walau kadangkala
ada juga saat-saat rewelnya, ketika ia bermain lalu menangis tiba-tiba, atau
mengompol saat kugendong. :D namun tak apa, keponakan adalah anggota keluarga yang
berharga.
Kehadiran mereka selalu menjadi daya tarik tersendiri saat kumpul
keluarga, berlari-lari, tertawa, terjatuh, menangis. Duh, sepertinya saya bakal
kangen lagi dengan mereka. :)
Sunday, July 8, 2012
Little Braver
As my walking stride grows bigger
I grow farther away from my dreams
I try changing the direction I walk, spinning around
I grow farther away from my dreams
I try changing the direction I walk, spinning around
It’s a little bravery, but it’s
always here
I found it in my childhood days
I’ll bring along my individuality, trapped in the deep darkness and completely scared
I found it in my childhood days
I’ll bring along my individuality, trapped in the deep darkness and completely scared
The flowing scenes all resemble one another
And for some reason, I yawn
Let’s go search for the next door at the sky’s yonder
And for some reason, I yawn
Let’s go search for the next door at the sky’s yonder
Riding on a little boat, I’ll unfurl its big sails
The wind blows in the great, sunny sky
Because you’re me and we’re always together, believe in your individuality
The wind blows in the great, sunny sky
Because you’re me and we’re always together, believe in your individuality
What are my palms for?
Are they for advancing on the steep road?
If that’s so, then certainly someday
I’ll grasp the trophy known as glory!
Are they for advancing on the steep road?
If that’s so, then certainly someday
I’ll grasp the trophy known as glory!
It’s a little bravery, it’s really tiny
But it’s something amazing, filled with ambition
Light shines into the darkness I was trapped in and it vanishes like daybreak
But it’s something amazing, filled with ambition
Light shines into the darkness I was trapped in and it vanishes like daybreak
Because you’re me, you’re also me, and we’re together
Let’s go see the end of our journey
Let’s go see the end of our journey
Friday, July 6, 2012
Dialah “pacar” saya.
Jaman sekarang, kalo ditanya sudah punya pacar belum? lalu
kita jawab “gak punya”, wah gak gaul katanya. Moso anak muda jaman sekarang gak
kenal istilah pacaran sih? Hmmm. Di artikel saya kali ini, saya tidak
membicarakan panjang lebar tentang apa itu pacaran? Mengapa pacaran? Ada apa
dengan pacaran? Dan bla..blaa..blaaa.. disini saya ingin mengenalkan siapa
pacar saya sebenarnya.
By the way, mungkin hanya anak SMP saja yang masih memiliki
pemikiran bahwa “Mencintainya tak harus memiliki”. Bagi saya mencintai adalah
memiliki, bagaimana mungkin kau bisa mencintai bila tak memiliki? Mencintai
tanpa memiliki itu sama halnya saat kau menatap sebuah iPad, BB dari etalase
yang bukan milikmu. Melihat pameran mobil di-showroom, mengelus-elus mobil yang
bukan milikmu? Itukah yang dimaksud dengan “Mencintai tak harus memiliki”? Ok,
lanjut cerita tentang pacar saya.
Saya sudah punya pacar. Saya tidak bohong. Bulan ini tepat
satu tahun hubungan pacaran kami. Sudah banyak sekali cerita yang kami buat, mulai dari hujan-hujanan di jalan,
mandi bareng, bahkan terjatuh di jalan. Duh, itu pengalaman tak terlupakan. Sebulan
sekali aku setia mengantarkan pacarku ke salon, demi menjaga kecantikannya yang
alami, namun jika sedang tak punya waktu kadang aku sendiri yang memandikannya,
membersihkan bagian kaki-kaki, lengan, leher, pundak dan pinggulnya. Kuakui dia
cukup binal, buktinya saat aku menungganginya tanpa fore-play dia membanting badanku ke aspal. Alhasil, lengan kiriku
lecet. Tapi sekali lagi, aku tetap mencintainya.
Kami berdua sudah memiliki komitmen yang tinggi untuk saling
berkontribusi satu sama lain. Mengusahakan yang terbaik yang bisa diberi. Tetap
mencintai walau sedang bosan, tidak mood dan sebagainya. Tetap menjaga satu
sama lain dalam segala situasi. Kami berjanji satu sama lain, untuk tetap setia
dan memberikan perhatian walau sedang enggan. Mengusahakan kebaikan untuk satu
sama lain.
Seorang penulis pernah berkata dalam novelnya “Cinta adalah
perbuatan, kau bisa memberi sesuatu tanpa cinta, namun kau tak bisa mencintai
tanpa selalu memberi”.
Nama pacar saya adalah BYSON, tubuhnya yang besar dengan
punggung lebar serta kaki-kaki yang kekar membuat dia selalu terlihat seksi
dimata saya. Pertengahan bulan ini saya ingin memberikan kado spesial
kepadanya, memasang bracket dan box di punggung belakang supaya tidak
capek-capek lagi membawa barang saat melakukan perjalanan pulang ke rumah.
Saya tak peduli, apa yang orang lain katakan pada kami. Kami
tutup telinga rapat-rapat. Karena bagiku, BYSON-lah sosok pacar sejati dan
sehati. Dialah pacar yang selalu mengerti keadaanku. Yang setia menemani setiap
perjalanan, kilometer demi kilometer kami tempuh, panas terik matahari kami
lalui, hujan deras kami lewati, tetap berjalan mencari jati diri.
Duhai BYSON, Aku tak bisa berbohong hati, bahwa aku memang mencintaimu.
I love you. :)
Wednesday, July 4, 2012
PUISI: Sejuta Rindu
Pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan
Pernah ada waktu-waktu dalam ikatan ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi namun secara tak sadar, kita saling meniadai
Di satu titik lalu sejenak kita berhenti,
menyadari mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api
Kubaca cendikiawan Dinasti Ming, Feng Meng Long
menuliskan sebaitnya dalam ‘Yushi Mingyan’;
“Bungapun layu jika berlebih diberi rawatan
willow tumbuh subur meski diabaikan”
Maka kitapun menjaga jarak dan mengikuti nasihat ‘Ali
“Berkunjunglah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi”
Padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan
seperti katamu, kau sedang ingin sendirian
maka seolah aku telah membiarkan
dirimu merasakan kepahitan menderita sendiri, getir dalam sunyi
ataukah memang sejak dulu begitulah aku?
Dan sekarang aku merasa bersalah lagi
seolah hadirku kini cuma untuk menegur
hanya mengajukan keberatan, bahkan menyalahkan
bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan
kurasa uluran tanganku yang dulupun
membuat kita hanya berputar-putar di kubangan kesalahan
Kita terdiam menatap senja,
di kotamu dan kotaku dalam rinai gerimis,
senja kelabu berselimut jingga
Hening menyusup, hening yang tak berani bersandar pada apapun
khayalanmu dan khayalanku terbang mengembara
ada yang bersatu, ada yang membeku
Namun aku senang bisa mengatakannya
saat ini jutaan rindu kuungkap dalam kalimat
menjadi paragraph-paragraph tak menentu
Aku rasa, kita tak dapat menafikan batas yang membentang
dimana jarak membingkai waktu
membuat kita sadar bahwa pada akhirnya, dalam hening kita berkata:
Biarlah..biarlah, kita menyelusup setiap serpihan sunyi
dan menikmatinya, tak henti, hingga lelap
tanpa tatap, tanpa ratap.
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan
Pernah ada waktu-waktu dalam ikatan ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi namun secara tak sadar, kita saling meniadai
Di satu titik lalu sejenak kita berhenti,
menyadari mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api
Kubaca cendikiawan Dinasti Ming, Feng Meng Long
menuliskan sebaitnya dalam ‘Yushi Mingyan’;
“Bungapun layu jika berlebih diberi rawatan
willow tumbuh subur meski diabaikan”
Maka kitapun menjaga jarak dan mengikuti nasihat ‘Ali
“Berkunjunglah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi”
Padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan
seperti katamu, kau sedang ingin sendirian
maka seolah aku telah membiarkan
dirimu merasakan kepahitan menderita sendiri, getir dalam sunyi
ataukah memang sejak dulu begitulah aku?
Dan sekarang aku merasa bersalah lagi
seolah hadirku kini cuma untuk menegur
hanya mengajukan keberatan, bahkan menyalahkan
bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan
kurasa uluran tanganku yang dulupun
membuat kita hanya berputar-putar di kubangan kesalahan
Kita terdiam menatap senja,
di kotamu dan kotaku dalam rinai gerimis,
senja kelabu berselimut jingga
Hening menyusup, hening yang tak berani bersandar pada apapun
khayalanmu dan khayalanku terbang mengembara
ada yang bersatu, ada yang membeku
Namun aku senang bisa mengatakannya
saat ini jutaan rindu kuungkap dalam kalimat
menjadi paragraph-paragraph tak menentu
Aku rasa, kita tak dapat menafikan batas yang membentang
dimana jarak membingkai waktu
membuat kita sadar bahwa pada akhirnya, dalam hening kita berkata:
Biarlah..biarlah, kita menyelusup setiap serpihan sunyi
dan menikmatinya, tak henti, hingga lelap
tanpa tatap, tanpa ratap.
Salam rindu selalu,
Prajurit Jaga Malam
Sunday, July 1, 2012
“Tentang Mug”
Dua tahun lalu saya punya mug, warnanya putih dengan pola kucing menghiasi. Saya suka sekali mug ini, mug pertama kali kubeli dengan uang hasil kerja sendiri. Sampe-sampe saya bawa ke negeri seberang. Lalu setahun kemudian mug itu jatuh dan akhirnya pecah berantakan. -_-“
Setelah aksiden itu akhirnya saya cari-cari mug yang unik, akhirnya didapatlah sebuah mug baru, mug kedua. Warna kuning kecoklatan dengan pola garis-garis. Namun mug kedua tak cukup bertahan lama, tangan yang suka mencak-mencak secara tak sengaja menyenggol mug yang berada diujung meja, alhasil mug terjatuh dan duaaaarrr..pecah berantakan. -_-“
Dan minggu lalu, saat berada di sebuah Mall, dibilangan Palembang. Saya cari-cari lagi mug, dan ketemulah dengan mug unik, ukurannya agak lebih besar dari kedua mug sebelumnya. Motifnya sederhana, ada banyak tulisan dari berbagai bahasa yang artinya “Terima kasih”, warnanya juga kuning kecoklatan. Mug ini akhirnya berhasil menarik perhatian saya, saya ambil dan segera menuju kasir. :)
Segelas kopi atau hangatnya coklat serasi sekali saat bersanding dengan mug baru, memegang gagang mug lalu mulai menyeruput bagian demi bagian. Alright guys, yang punya mug favorit mari kita berbagi cerita di-blog sederhana saya ini. Terima kasih. :)
Ini mug saya, mana mug-mu?
Setelah aksiden itu akhirnya saya cari-cari mug yang unik, akhirnya didapatlah sebuah mug baru, mug kedua. Warna kuning kecoklatan dengan pola garis-garis. Namun mug kedua tak cukup bertahan lama, tangan yang suka mencak-mencak secara tak sengaja menyenggol mug yang berada diujung meja, alhasil mug terjatuh dan duaaaarrr..pecah berantakan. -_-“
Dan minggu lalu, saat berada di sebuah Mall, dibilangan Palembang. Saya cari-cari lagi mug, dan ketemulah dengan mug unik, ukurannya agak lebih besar dari kedua mug sebelumnya. Motifnya sederhana, ada banyak tulisan dari berbagai bahasa yang artinya “Terima kasih”, warnanya juga kuning kecoklatan. Mug ini akhirnya berhasil menarik perhatian saya, saya ambil dan segera menuju kasir. :)
Segelas kopi atau hangatnya coklat serasi sekali saat bersanding dengan mug baru, memegang gagang mug lalu mulai menyeruput bagian demi bagian. Alright guys, yang punya mug favorit mari kita berbagi cerita di-blog sederhana saya ini. Terima kasih. :)
Ini mug saya, mana mug-mu?






