PUISI: Ceritakan padaku
Lebaran
Setelah urus sana-urus sini akhirnya surat cuti selesai juga. Gak kebayang kalo tahun ini gak DIKASIH CUTI, saya harus merayakan lebaran di tempat kerja dengan jadwal seperti biasa, shift pagi pula! Bisa-bisa saya GALAU STADIUM 4. Tapi Alhamdulillah, tahun ini saya bisa kumpul bareng keluarga. :)
Sampe di rumah itu pas hari terakhir ramadhan dan keeesokan harinya adalah lebaran. Pas sesuai dengan yang saya jadwalkan. Jadi saya sempat menikmati momen buka bersama untuk terakhir kali.
Malam harinya saya senang sekali saat mendengar takbir menggema dimana-mana, kembang api yang meriah dan dapur rumah yang beraneka aromanya. Ada ketupat, rendang, opor ayam dan makanan kesukaan saya, kue lapis! :D
Satu lagi, acara halal-bihalal yang hanya ada negeri kita ini kami laksanakan di masjid dekat rumah selepas sholat Ied. Bersalam-salaman lalu makan bersama.
Saya tahu, lebaran bukanlah hanya sekedar acara salam-salaman, makan bersama ataupun mengunjungi tempat keluarga/ teman tetapi lebaran adalah hari dimana kita merayakan kemenangan yang sesungguhnya setelah sebulan penuh berpuasa, tentu saja di hari lebaran kita harus SALING MEMAAFKAN SEPENUH HATI.
Lebaran tahun ini terasa berbeda, karena saya sudah tak lagi anak-anak. Kalo lebaran waktu dulu saya yang dikasih duit oleh paman ataupun kerabat keluarga lainnya. Lebaran kali ini saya sudah bisa memberi duit kepada keponakan-keponakan kecil saya. Anehnya, keponakan-keponakan kecil sudah kenal apa itu duit, mereka GAK MAU YANG BIRU, PENGEN YANG MERAH katanya! *wah gawat nih!* :p
Setiap lebaran yang saya lalui tahun ke tahun selalu memiliki warna tersendiri. Selalu ada kesan istimewa yang kusimpan dalam kenangan.
O ya, saya ingin mengucapkan SELAMAT LEBARAN bagi yang merayakannya. Saya mohon maaf atas segala kekhilafan dan kesalahan. Terima kasih. :)
Memilih Teman Setia
Hampir setiap saat selalu ada Abu Bakar di sisi Nabi Muhammad SAW setelah beliau mendeklarasikan diri sebagai utusan Ilahi. Di tengah-tengah masyarakat yang tak bersahabat dan antipati, Abu Bakar membuat Nabi tegar menghadapi tantangan dakwah yang silih berganti.
Gua Tsur adalah saksi bisu bagaimana ia meredam sedih dalam kepungan amuk kejahiliyahan orang-orang Quraisy yang mengejar Nabi (QS. 9: 40). Peristiwa Isra Mikraj juga menjadi bukti kesetiaan seseorang yang percaya sepenuhnya kualitas kejujuran temannya.
Bila Nabi memiliki Abu Bakar, Harun AS adalah teman perjuangan Nabi Musa AS. Dialah yang membantu Musa dalam mengembangkan dan menyebarkan agama Allah. Dengan kefasihan dan kecerdasan bahasa yang dimiliki, ia menutupi masalah artikulasi yang menjadi kendala Musa (QS. 28: 34).
Ia tahu bagaimana menghadapi Firaun dan Bani Israil yang sering membuat emosi Musa tak terkendali. Saat Musa harus mengikuti perintah bermunajat di Thur Sina, Harunlah yang menggantikan Musa untuk mengawasi dan mengendalikan Bani Israil agar tidak berbuat keonaran, kemunkaran, apalagi kemusyrikan. (QS. 20: 29).
Perjuangan memang butuh teman, yang mendukung tanpa batas, yang mengoreksi tanpa risih, dan yang memahami kegundahan tanpa membebani. Teman adalah seseorang yang senantiasa membantu tanpa berharap balas budi, yang berada di depan tanpa takut mati, yang juga siap memberikan waktu, tenaga, pikiran, harta, dan kesetiaan.
Sunnatullahnya, semua makhluk di muka bumi butuh teman. Pepatah Arab menyebut, teman terkadang lebih berguna daripada saudara kandung. Namun, tidak sembarang teman bisa dipercayai. Hanya teman yang bersedia ada di saat susah dan sedih yang patut dijadikan sandaran hati. Karena, saat jaya dan bahagia, teman baik tak bisa diuji. Teman yang hanya mau diajak tertawa bukanlah teman sejati. Saat air mata menetes, teman setia barulah terbukti.
Untuk melihat patokan kualitas teman, nasihat sastrawan Arab klasik, Tharfah bin Al-Abd, patut direnungi. “Jangan bertanya pada seseorang tentang dirinya. Tanyalah temannya tentang siapa dia. Seseorang selalu mengikuti apa yang dilakukan temannya.” Ini selaras dengan sabda Nabi. “Orang akan mengikuti kecenderungan dan sikap temannya. Oleh karenanya, perhatikan siapa temanmu.” (HR Tirmidzi).
Singkatnya, teman adalah cerminan diri. Para sufi menyebut, ruh kita itu tentara yang berbaris. Barisan yang kita pilih adalah identitas azali kita. Teman mana yang membuat kita nyaman, itu sejatinya diri kita. Karenanya, dalam Islam ditekankan pentingnya memilih teman. Jika salah pilih, tidak hanya jati diri yang hilang, tapi harga diri.
Tanpa disadari, surga dan neraka kita pun, ada andil siapa teman yang kita pilih. Nabi SAW berpesan,“Seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang disukai,” (HR Bukhari). Menurut para ulama, pesan Nabi itu berlaku tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat.
Oleh: Moch Syarif Hidayatullah
Sumber: Republika
PUISI: Hai para awan
Kemana saja kau pergi?
Istana langit mencari-cari
Kumpulan awan yang meninggi
Berkepul-kepul laksana mimpi hilang sehari
Hai para awan kesinilah
Selimuti langit kami
Mentari bersinar terik sekali akhir ini
Hai para awan kesinilah
Menyatulah bersama langit
Gumpalkan dirimu
Buatlah gundukan awan yang hitam
Hai para awan dengarlah
Setelah gundukan awan hitam terjadi
Maka pecahkanlah
Lalu biarkan anak hujan membasahi tanah kami
Menyuburkan bumi, rerumputan dan pepohonan
Mengisi lagi sumur-sumur yang kekeringan
Hai para awan
Ini bukanlah penantian
Juga bukan kerinduan
Tapi ini adalah doa
Datanglah segera
Percakapan dua sahabat
Emak pernah bilang: “Terlepas dari apapun jenis pekerjaannya yang penting halal, dilakukan dengan ikhlas serta bermanfaat bagi sesama”. Terkadang aku meneteskan airmata haru kala melihat Bapak yang tiap hari pergi pagi pulang sore untuk menghidupi kebutuhan keluarga kami. Bergelut dengan alat cukur, gunting, sisir. Memotong dan merapikan rambut.
Sekali pun tak pernah aku merasa malu untuk mengakui bahwa pekerjaan Ayahku hanyalah seorang tukang cukur rambut di pasar. Apa yang mesti dimalukan? Itu adalah pekerjaan yang terhormat, kata-kata itu sudah kutanamkan kuat-kuat sejak dulu.
Aku masih ingat kata-kata Danu saat kami pulang sekolah diawal tahun pelajaran. Saat teman-teman lain mengolok-olok pekerjaan Bapak.
“Kau tak perlu berkecil hati Gus, saat mereka menertawakan pekerjaan Bapakmu. Kau harus bangga dan berbesar hati. Tak ada pekerjaan yang lebih hebat selain tukang cukur. Percayalah! Seorang Presiden pun tunduk saat tukang cukur mulai memotong rambutnya bahkan saat memegang kepalanya, dia pun tak marah”. Aku tersenyum, mengangguk setuju.
Dan kini, Bapak sudah sepantasnya berbangga hati terhadap anaknya. Karena harapan terbesarnya terkabulkan, harapan kepada anaknya agar memiliki pekerjaan yang lebih dari dirinya. Anakmu kini sudah bisa bekerja dengan tangan sendiri, mengais rizki di sela-sela kehidupan masyarakat yang pelik, dan tetap bertahan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Emak, Bapak doakan anakmu, selalu.
