Pages

1000 lebih beberapa kata

Ini adalah postingan blog saya yang pertama berbahasa Indonesia, entah kenapa hari ini mood saya ingin mengetik sesuatu yang berbeda. Sudah beberapa hari ini saya di rumah namun entah kenapa pikiran saya masih melayang entah kemana. Saya turuti rasa malas itu, bangun jam 9 pagi, mandi jam 11 siang. Maklum sedang musim hujan di kota saya.


Cuti saya akhir tahun ini saya habiskan di rumah, bertemu orang tua, keluarga, sahabat dan kucing peliharaan saya. Makan masakan Emak, jamur tiram goreng, mengelilingi kota kelahiran, berhujan-hujanan, berlari-larian dan tertawa tanpa alasan. Saya menelpon teman-teman, mengirim sms kepada mereka memberitahu bahwa saya di rumah. Namun tanggapan yang ada terkadang tak sesuai yang kukira. Panggilan telpon saya yang mereka angkat menunjukkan seperti mereka tidak ingin diganggu dengan hadirnya panggilan saya. Sms yang kukirim hanya mendapat jawaban seadanya, sesingkatnya. Saya sudah tahu demikian jadinya, namun saya masih saja bodoh dengan tetap membuat panggilan telpon dan sms.


Setiap bangun tidur, saya selalu berharap akan ada panggilan tak terjawab atau sms di ponsel saya dari orang –orang yang saya cintai. Walaupun hanya ucapan ‘selamat pagi’ dan sebuah ikon smile . Namun yang saya dapat terkadang hanya pesan teks dari operator yang mempromosikan program terbarunya. Saya hanya berharap dan tak meminta, namun bila itu terjadi pada saya itu sudah cukup membantu mencerahkan mood hari saya.


Sejak setibanya saya di tanah kelahiran setelah berpisah dari rumah cukup lama, mata dan pikiran saya agak sedikit terbuka tentang dunia. Tentang prinsip, belajar, kerja keras, kesederhanaan. Namun akhir-akhir ini mata dan hati sedikit buta, serasa hilang arah, tak tahu kemana melangkah. Mungkin karena saya tak tinggal di kota atau karena wajah saya tak sering terlihat dan membuat kalian lupa. Maka kalian datang dan pergi seenaknya. Saya suka cerita, senja, dan bahagia. Apakah kau lupa? Hiburlah saya sedikit saja, bukan karena manja. Itu karena cinta hidup yang kupunya membutuhkan hadirnya kalian. Mungkin benar ucapan sahabat saya, saya terlalu sibuk mengisi kekosongan orang lain sehingga membuat orang lain terlupa untuk mengisi kekosongan yang ada pada saya. Yang mereka anggap, saya selalu penuh dengan bahagia. Kesepian yang ditutupi dengan tawa, kesedihan yang ditutupi senyum simpul seadanya dan rasa kecewa. Saya tahu, hidup terkadang menunjukkan taringnya saat setiap orang sibuk dengan segala kegiatannya, hingga terlupa dengan orang sekelilingnya. Hidup memang kejam, mati pun merajam. Tak ada yang lebih menghangatkan saat kebersamaan datang dan sebuah senyuman. Kemarilah jangan tinggalkan saya sendirian, hidup sepertinya lebih mudah jika kita bergandengan tangan. 


Tahukah kau? Sebetulnya Saya ini pengemis bahagia, yang hari-harinya dihabiskan untuk membahagiakan orang sekelilingnya, memberikan tawa tanpa makna, senyum tanpa rasa, rasa cinta dan hadiah. Yang kerap kali terluka saat mendamba untuk mendapat rasa bahagia dari sekelilingnya. Saya ini pejalan kaki yang setia, yang tiap harinya setia berjalan membawa luka yang tak seorang tahu luka apa. Saya tamu yang tak terduga, yang suka datang ke rumah-rumah yang pintunya terbuka, yang suka bercerita kepada pemiliknya tentang saya dan aneka warna. Saya ini penunggang kuda besi jalanan, bermain dengan kecepatan yang terkadang terjatuh karena angkuhnya, saling memotong kendaraan di jalan raya hanya sekedar untuk berkunjung ke kotamu, bertemu denganmu, yang berangkat pagi dari rumah dan siang sampai di tempat kerja di beda kota.



Sering orang berkata, perkataanku sulit dicerna, dimengerti atau mungkin diterima. Karena aku tak pandai berkata-kata. Jawabannya Iya! Tidak ada yang ditutupi-tutupi, itulah adanya. Antara otak dan mulut, saya rasa ada saraf yang tidak sinkron barangkali yang menyulitkan untuk menggambarkan rasa lewat kata. Berkata pun terkadang terbata-bata. Sedari dulu saya sudah menyadarinya, maka dari itu saya lebih suka mendengarkan daripada bicara atau menuliskan kata-kata dengan pena. Bukan berarti tak bisa berbicara, saya bahkan bisa berbicara dalam tiga bahasa.


Orang pendiam mungkin akan memilih diam dan tak berkata saat kegundahan menimpa dirinya, saya tahu wajah-wajah yang sedang murung, gelisah, ceria, bahagia ataupun berduka. Mereka tak berkata pun aku sudah tahu perasaan mereka lewat raut wajah dan binar-binar matanya. Aku pun begitu, tapi kenapa orang lain harus diam? Saya bahkan membenci hal tersebut. Cukuplah saja aku, yang menjadi pengecut dalam diam yang tak berani berkata saat kegundahan datang. Yang lebih suka menyelesaikan masalahnya sendiri dengan caranya sendiri. Yang memendam masalah dan rasa dalam hati, hingga terbayang dalam tidur. Yang menatap ke langit-langit saat malam menjelang, pikiran melayang, dan mengambang. Saya suka manusia periang, yang tersenyum lebar dan yang membagi keceriaan. Berkumpul dengan orang-orang tersebut membuat isi kepala saya lebih lapang. Duduklah disampingku saatku diam, ajaklah aku untuk berkata, lemparkan senyum. Jangan diam saat aku diam. Batu juga diam, karena kamu bukan batu.


Saya pengingat masa lalu. Ungkapan yang terucap, kenangan yang ada, orang-orang masa lalu, wajah-wajah rupawan, rel kereta, layang-layang, sepeda mungil, burung perkutut, sungai kecil, jalanan sempit dan senja yang merah. Semua aku ingat dengan baik. Sosok yang sangat aku benci pun masih lekat dalam ingatanku dengan baik. Ingatan saat pertama masuk sekolah, seragam putih merah, putih biru, putih abu-abu hingga lulus sekolah, coret-coret seragam dan sertifikat kelulusan semua kuingat dengan jelas. Memang benar kita tidak bisa menghilangkan jejak masa lalu dari bayang-bayang diri. Hari kemarin adalah masa lalu. Yang kita punya adalah hari ini, hari ini dimana kita masih bisa bernapas dengan lega, memandang dengan luas, bergerak dengan bebas, berbicara dengan lantang, mendengar dalam hening, menyentuh dalam asa, saling melempar  senyum dengan indahnya.


Terlahir sebagai lelaki adalah anugerah terindah yang pernah ada, menjadi kebanggaan orang tua, yang bisa diandalkan saat dibutuhkan. Mengantar Emak ke pasar, mengangkat sayur, memindahkan meja, membersihkan halaman, belajar dan bekerja itu semua adalah karunia Yang Maha Kuasa. Tak terhitung berapa banyak anugerah yang dilimpahkan-Nya. Saya hanya berusaha dan berdoa dalam sosok sebenarnya, memohon agar Tuhan selalu berkenan memberikan rahmat dan cinta kepada Emak saya dan seisi penghuni rumah. Dua puluh tahun sudah hidup di dunia, mulai dari gendongan Emak, merangkak, berjalan, hingga berlari. Terjatuh dalam lubang, cipratan lumpur, mandi salju, tergores luka, menangis hingga berdarah. Terbanting dan terhina semuanya sudah dirasa. Jejak kaki pun tak terhitung jumlah, entah berapa puluh ribu mungkin bahkan jutaan jejak kaki saya tersebar di permukaan bumi. Entah di bagian mana saja, saya pun lupa. Jalanan di depan masih menunggu dengan sabarnya. Menanti kehadiran saya untuk melaluinya, entah medan macam apalagi yang disuguhkannya. Yang pasti, memutar arah dan berlari dari serbuan masalah bukanlah sifat saya.


Sedikit aneh mungkin, saat kau membaca isi blog saya. Mulai dari kumpulan cerita yang biasa yang saya anggap luar biasa. Kegiatan yang membuat hilang rasa saat kau membacanya, sajak-sajak yang tak beraturan, atau susunan bahasa inggris yang tak kau mengerti apa maksudnya. Namun sekali lagi,itulah isi pikiran saya yang tertulis rapi yang setiap saat bisa kau baca. Pembaca yang setia, sebaiknya saya segera mengakhiri ketikan ini. Maaf sudah berbicara yang tak jelas lagi. Pikiran saya sudah agak sedikit lapang setelah menyelesaikan postingan ini. Terima kasih. =)

0 comments:

Post a Comment